Wisata ke Takengon-Aceh, Negeri Di Atas Awan. Ready Paket Wisata 3h2m / 4h3m / 5h4m

Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan sedikit informasi keindahan tempat-tempat yang akan kita saksikan bersama-sama, jika suatu saat nanti kita di izinkan untuk bersama dalam hal mengunjugi tempat-tempat yang belum anda kunjungi selama ini.

Selama ini mungkin kita pernah mendengar cerita dari mulut ke mulut tentang indahnya Kota Takengon ini tanpa mengunjungi secara langsung kota tersebut. Untuk meringankan keinginan anda tersebut, oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami menulis tentang Kota Takengon, Kota dengan  Objek wisata yang lebih terkenal dengan sebutan Negeri Di Atas Awan.

Kota Takengon berasal dari Bahasa Aceh yaitu yang berarti "Tikungan" yang arti nya kelokan, karena untuk menuju ke kota ini harus melewati rute tanjakan perbukitan dan menelusuri lereng-lereng gunung dengan jalan berkelok-kelok yang terjal dan curam, dengan jurang kadang disebelah kiri dan kadang disebelah kanan, penuh pepohonan lebat sepanjang jalan. Kota Takengon sangat terkenal dalam berbagai macam hal, baik itu objek wisata, kuliner, pemandangan alam, refreshing, bersepeda, sehingga tempat ini menjadi destinasi yang sangat tepat untuk dikunjungi bagi Anda yang sedang memerlukan refreshing, jenuh dengan pekerjaan yang begitu banyak, liburan akhir tahun maupun liburan sekolah. Namun tetap gunakan kebutuhan akan wisata menjadi kegiatan yang positif, bersyukur dengan cara tidak merusak alam ciptaan Allah Subhanahu Wata'ala yang indah dan mempesona di bumi Indonesia ini.
Takengon, Negeri Di Atas Awan
 Keindahan Alam Kota Takengon
Pemandangan alam yang begitu mempesona dan memanjakan mata terus terasa sepanjang perjalanan ke kota diatas awan ini. Jalan yang Melewati kaki Gunung Geureundong dengan jalannya yang berliku-liku membuat kepala kita sedikit pusing namun tak apa, itu semua akan terbalaskan dengan suasana alam yang jarang kita lihat mungkin selama ini. Bayangkan saja  ketinggiannya itu 1200 mdpl kalau di dunia pendakian gunung, ketinggian tersebut sudah masuk kategori gunung lho. Karena itu dataran ini yang sangat cocok untuk budidaya Kopi Arabika, Tembakau dan Damar.
Negeri Di Atas Awan

Jika berada di Kota Takengon, indra penglihatan kita akan dimanjakan dengan indahnya pemandangan alam yang luar biasa. Pemandangan indah akan kayanya alam nusantara ini. Kita akan melihat Danau Laut Tawar, yang begitu luas dan hampir tampak seluruh permukaannya. Serta dikelilingi oleh bukit-bukit yang menjadikan pemandangan kita seperti sebuah cawan berisikan air. Juga tidak kalah kerennya bangunan-bangunan rumah disekitar danau. Terlihat seperti sebuah dermaga yang sangat luas.

Pemandangan langit yang luas sejauh mata memandang. Dengan awan yang begitu jelas terlihat sangat dekat bagaikan kita sedang berada di atasnya. Serasa kita sedang berpijak di awan tersebut. Melihat gerakannya yang begitu cepat dan berubah-ubah layaknya perasaan manusia. Karena itu selalu mengucap syukur dengan semua nikmat yang tiada habisnya ini. Di tempat ini terdapat banyak objek wisata yang sangat mirip dengan sisi lainnya di negara Indonesia, yaitu Sumatera Barat. Dengan Danau Laut tawar layaknya Danau Maninjau, Puncak Pantan Terong layaknya Puncak Lawang, cerita rakyat Puteri Pukes menjadi batu seperti cerita Malin Kundang, Kopi Gayo dengan Kopi Lawang. Dan masih banyak lagi hal yang sangat mirip dari kedua daerah antara Aceh dan Sumbar.


Sebuah kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Kota Takengon berada di sisi barat danau ini. Masyarakat setempat menyebut danau ini dengan sebutan Danau Lut Tawar. Bentuk geologisnya yaitu memiliki luas 5.472 hektare dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³. Danau ini hidup berbagai macam hewan air tawar seperti ikan dan udang. Dan konon masyarakat setempat mengatakan bahwa disekitaran danau juga masih banyak habitat satwa langka seperti trenggiling, landak, siamang, kijang, kucing hutan dan harimau.
Danau Laut Tawar
Pantan Terong
Wisata ketinggi yang berada di puncak bukit Dataran Tinggi Gayo Takengon Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah yang bernama Puncak Pantan Terong. Dengan ketinggian 1.830 meter dan mempunyai jarak 7,5 km ke arah barat dari Kota Takengon. Dari puncak ini hampir terlihat seluruh desa di Takengon serta pemandangan indah Danau Laut Tawar dan hijaunya bukit barisan yang mengapit hilir danau.
Pantan Terong Takengon

Gua Puteri Pukes
Salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi jika berwisata ke takengon adalah wisata ke Loyang Puteri Pukes. Loyang adalah sebutan untuk gua/goa, sedangkan Puteri Pukes adalah legenda yang ada di daerah Kota Takengon. Untuk letak geografisnya gua ini berada di kaki bukit Kecamatan Kebayakan yaitu arah menuju ke Kecamatan Nosar Kabupaten Aceh Tengah, dimana untuk menuju lokasi ini dibutuhkan waktu sekitar 2 km menurun dari Kota Takengon.
Gua Puteri Pukes


Gayo Highland dan Kopi Gayo
Gayo merupakan salah satu daerah yang berada di puncak bukit barisan. Dataran tinggi Gayo meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah serta kabupaten Gayo Lues. Gayo Highland atau yang dikenal dengan nama Bur Gayo (bur = Gunung/Bukit) oleh masyarakat sekitar. Banyaknya dataran tinggi di daerah Takengon menjadikannya mendapat sebutan negeri di atas awan dan Kota Seribu Gunung. Udara nya yang segar dan penampakan alam yang alami di puncak gayo membuat mata sangat fresh dan hati menjadi tentram.


Kawasan Gayo ini sangat terkenal dengan kopinya yaitu Kopi Gayo, ini juga salah satu yang membuat Aceh terkenal dengan kopinya. Biasanya kopi yang tumbuh di dataran tinggi mempunyai cita rasa yang nikmat dan khas. Kopi Gayo juga dikenal dengan nama Kopi Takengon. Kopi Gayo ini adalah salah satu jenis kopi arabica yang dulunya sangat langka dan hanya tumbuh di daerah afrika.
Kopi Gayo
Nah, itulah sedikit detail info yang dapat kami sampaikan tentang Indahnya Kota Takengon yang lebih di kenal Negeri Di Atas Awan. Untuk teman-teman yang ingin mengetahui secara lebih dapat menghubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut. Kami siap Membantu anda ....

Sila Whatshapp = Devi : 0823 6120 6130
email                 = aso_wisata@yahoo.com / deviyanti_mpi77@yahoo.com

Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan sedikit informasi keindahan tempat-tempat yang akan kita saksikan bersama-sama, jika suatu sa...

Panorama Indah Sunset di Pulo Kapok, Aceh Besar. Ready paket Wisata 3h2m / 4h3m / 5h4m

Selamat datang di Blog PT. ASONANGGROE WISATA Tour & Travel.

Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas sedikit info tempat wisata yang patut sama-sama kita kunjungi. Disana akan kita saksikan bersama-sama keindahan-keindahan yang tersaji secara alami. 

Kami akan memandu anda menyelusuri tempat-tempat yang belum pernah anda kunjungi, sehingga anda merasa nyaman, dan pasti nya anda dapat merasakan kepuasan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dan pada kesempatan kali ini kami akan membahas salah satu Objek wisata yang paling dahsyat yang paling spektakuler yang terdapat di Aceh, yaitu tentang Pulau Kapok.

Bumi Aceh ini terletak di ujung barat Sumatera, memiliki deretan pantai-pantai indah yang pemandangannya sangat mengangumkan. Pantai Pulo Kapuk termasuk dalam Kecamatan Loknga, Aceh Besar. Anda yang gemar foto-foto / selfie bisa mencuri waktu berburu sunset di salah satu pantainya ini. Ayok kita Kunjungi saja Pantai Pulo Kapuk untuk mendapatkan sunset dengan kualitas terbaik!


Bagi Anda yang suka berburu sunset, Aceh merupakan salah satu lokasi yang pantas dikunjungi untuk hunting. Dengan pasir putih yang membentang di bibir pantai yang bisa kita lihat dari Aceh Besar hingga sebelah barat selatan sana, lokasinya sangat cocok untuk Anda berburu foto terbaik.

Tak jauh dari pusat Kota Aceh Kita bisa menuju Pantai Pulo Kapuk, pantai yang lokasinya tidak jauh dari Pantai Lampuuk Aceh Besar. Pantai ini juga cocok untuk rekreasi keluarga di mana di sana juga terdapat Sungai Krueng Raba.

Sungai tersebut airnya jernih dan pastinya bisa dimanfaatkan untuk pemandian anak-anak. Selain itu yang punya hobi mancing juga bisa melempar kailnya baik di sungai maupun ke laut. karena di daerah ini terkenal dengan banyaknya ikan yang akan menghiasi harimu selama berada di kawasan ini, beraneka ragam jenis ikan yang ada membuat para pecinta memancing tergoda untuk terus berada disekitar daerah ini. Di sisi sungai juga tersedia pondok-pondok kecil untuk bersantai, mencicipi nikmatnya ikan bakar dari  beberapa penyedia pondok bersantai dan pengunjung juga bisa merasakan segarnya air kelapa muda dan beberapa minuman lainnya.

Pantai Pulo Kapuk ini pada musim-musim tertentu juga sering digunakan untuk surfing oleh para wisatawan yang datang dari Luar negeri maupun dari dalam negeri.

Pantai ini patut dijadikan sebagai destinasi wisata Anda selanjutnya di Aceh. 

Ayo kunjungi Bumi Aceh sekarang juga.

Info lebih lanjut
Sila Wa = 0823 6120 6130
email = aso_wisata@yahoo.com / deviyanti_mpi77@yahoo.com

Selamat datang di Blog PT. ASONANGGROE WISATA Tour & Travel . Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas sedikit info tempa...

Ayo jalan-jalan ke Bumi Aceh.... Ready 3h2m / 4h3m / 5h4m

Kota Banda Aceh (Jawoë: كوتا باندا اچيه) adalah salah satu kota yang berada di Aceh dan menjadi ibukota Provinsi Aceh, Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan kota yang berlandaskan Islam yang paling tua di Asia Tenggara, di mana Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh.


Sejarah
Lukisan Kota Banda Aceh pada masa Kesultanan Aceh dari arah laut oleh François Valentijn (1724-1726)

Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam.[2] Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi. Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Pada masa agresi Belanda yang kedua, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja. Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2012 adalah sebesar 248.727 jiwa.


Letak astronomis Banda Aceh adalah 05°16'15"–05°36'16" Lintang Utara dan 95°16'15"–95°22'35" Bujur Timur dengan tinggi rata-rata 0,80 meter di atas permukaan laut.
Batas wilayah

Kota Banda Aceh berbatas dengan Selat Malaka di sebelah utara; Kabupaten Aceh Besar di sebelah timur dan selatan; dan Samudera Hindia di sebelah barat.
Iklim

Kota Banda Aceh terdiri dari 9 kecamatan, 17 mukim, 70 desa dan 20 kelurahan. Wali kota Banda Aceh yang sekarang adalah Illiza Sa'aduddin Djamal.[4] Ia diangkat menjadi wali kota pada tahun 2014 melalui Surat Keputusan No. 131.11 - 1644 Tahun 2014.


Kota Banda Aceh (Jawoë: كوتا باندا اچيه) adalah salah satu kota yang berada di Aceh dan menjadi ibukota Provinsi Aceh, Indonesia. Sebagai...

Objek Wisata Aceh / (Peninggalan Kerajaan Aceh) Ready Paket Wisata 3h2m / 4h3m / 5h4m

Kerajaan Aceh adalah sebuah kerajaan Islam yang berdiri pada sekitar akhir abad ke 14 Masehi di wilayah yang secara administratif kini masuk dalam Provinsi Aceh. Kerajaan yang sultan pertamanya bernama Sultan Ali Muhayat Syah ini memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia dan Malaysia pada masa silam. Bukti pentingnya peranan kerajaan Aceh tersebut membekas pada beberapa peninggalan Kerajaan Aceh seperti yang akan kita bahas pada artikel berikut ini. Peninggalan Kerajaan Aceh Berikut ini adalah beberapa peninggalan Kerajaan Aceh yang menjadi bukti bahwa kerajaan tersebut pernah ada dan memiliki peranan penting dalam jalur perdagangan dan penyebaran agama Islam di Indonesia. Peninggalan Kerajaan Aceh 

1. Masjid Raya Baiturrahman 
Peninggalan Kerajaan Aceh yang pertama dan yang paling dikenal adalah
Masjid Raya Baiturrahman. Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada sekitar tahun 1612 Masehi ini berada di pusat Kota Banda Aceh. Saat agresi militer Belanda II, masjid ini sempat dibakar. Namun pada selang 4 tahun setelahnya, Belanda membangunnya kembali untuk meredam amarah rakyat Aceh yang hendak berperang merebut syahid. Saat bencana Tsunami melanda Aceh pada 2004 lalu, masjid peninggalan sejarah Islam di Indonesia satu ini menjadi pelindung bagi sebagian masyarakat Aceh. Kekokohan bangunannya tak bisa digentarkan oleh sapuan ombak laut yang kala itu meluluhlantahkan kota Banda Aceh. Subhanallah, sungguh kuasa Allah SWT yang tidak sanggup kita fikirkan. :)

2. Benteng Indrapatra 
Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya itu adalah Benteng Indrapatra. Ya, Benteng ini
merupakan benteng pertahanan yang sebetulnya sudah mulai dibangun sejak masa kekuasaan Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya sejak abad ke 7 Masehi. Benteng yang kini terletak di Desa Ladong, Kec. Masjid Raya, Kab. Aceh Besar ini pada masanya dulu memiliki peranan penting dalam melindungi rakyat Aceh dari serangan meriam yang diluncurkan kapal perang Portugis. Peninggalan Kerajaan Aceh Sekarang, kita hanya dapat menemukan 2 benteng yang masih kokoh berdiri. Benteng tersebut berukuran 70 meter x 70 meter dengan tinggi 4 meter dan tebal sekitar 2 meter. Selain menjadi peninggalan bersejarah, benteng Indrapatra kini juga dikenal sebagai objek wisata unggulan Kab. Aceh Besar. Gaya arsitektur serta keunikan konstruksinya yang hanya terbuat dari susunan batu gunung ini membuat banyak orang penasaran dan tertarik untuk mengunjunginya.

3. Gunongan
Gunongan adalah peninggalan Kerajaan Aceh yang berupa sebuah taman lengkap dengan bangunan keratonnya. Taman ini berdasarkan sejarahnya merupakan bukti cinta Sultan Aceh pada
permaisurinya yang sangat cantik. Permaisuri yang tak diketahui namanya ini merupakan putri raja Kerajaan Pahang yang ditawan karena kerajaannya kalah perang. Sang Sultan jatuh cinta dan mempersuntingnya, hingga kemudian si permaisuri tersebut meminta dibuatkan sebuah taman yang sama persis dengan istana kerajaannya yang terdahulu untuk mengobati rasa rindunya kepada kampung halamannya. Peninggalan Kerajaan Aceh yaitu Gunongan hingga saat ini terletak tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Tepatnya berada di Desa Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Jika berkunjung ke Banda Aceh, jangan lupa sempatkan diri Anda singgah di taman asmara ini. Taman yang begitu indah, sehingga membuat siapa saja terkesima melihatnya.

4. Makam Sultan Iskandar Muda 
Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya adalah Makam dari Raja
Kerajaan Aceh yang paling ternama atau paling terkenal pada masa kejayaannya, yah siapa lagi kalau bukan Sultan Iskandar Muda. Makam yang terletak di Kelurahan Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh ini sangat kental dengan nuansa Islami. Ukiran dan pahatan kaligrafi pada batu nisannya sangat indah dan menjadi salah satu bukti sejarah masuknya Islam di Indonesia. Peninggalan Kerajaan Aceh




5. Meriam Kerajaan Aceh
Kesultanan Aceh telah mampu membuat sarana persenjataannya sendiri. Hal ini
dibuktikan dengan keberadaan meriam-meriam tua yang kini berjajar di benteng Indraparta dan musium Aceh. Awalnya meriam-meriam tersebut dianggap berasal dari pembelian ke Kerajaan Turki, namun setelah diteliti ulang, ternyata bukan. Teknisi-teknisi kerajaan Aceh-lah yang membuatnya berbekal ilmu yang mereka pelajari dari kerajaan Turki Ustmani. Peranan meriam-meriam ini sangat penting dalam perlawan dan perang terhadap para penjajah dan kapal-kapal perang musuh yang hendak menyandar ke dermaga tanah rencong. Peninggalan Kerajaan Aceh

6. Uang Emas Kerajaan Aceh 
Aceh berada di jalur perdagangan dan pelayaran yang sangat strategis.
Berbagai komoditas yang berasal dari penjuru Asia berkumpul di sana pada masa itu. Hal ini membuat kerajaan Aceh tertarik untuk membuat mata uangnya sendiri. Uang logam yang terbuat dari 70% emas murni kemudian dicetak lengkap dengan nama-nama raja yang memerintah Aceh. Koin ini masih sering ditemukan dan menjadi harta karun yang sangat diburu oleh sebagian orang. Koin ini juga bisa dianggap sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Aceh yang sempat berjaya pada masanya.


Demikianlah sedikit ulasan dari kami tentang Peninggalan Kerajaan Aceh dulu yang masih ada hingga sekarng dan sekarang sudah di lestarikan juga oleh Pemerintah Aceh, agar masyarakat selalu ingat akan sejarahnya.

Nah untuk anda para travellers sejati, jika anda berminat berkunjung ke bumi aceh, segeralah menghubungi kami.
Info lebih lanjut, hubungi ...
Whatshapp : Devi = 0823 6120 6130
email : aso_wisata@yahoo.com / deviyanti_mpi77@yahoo.com

Terjamin 100% kepuasan anda adalah layanan utama kami ...

Kerajaan Aceh adalah sebuah kerajaan Islam yang berdiri pada sekitar akhir abad ke 14 Masehi di wilayah yang secara administratif kini masu...

Budaya Aceh #Peumeulia Jamee Adat Geutanyoe.... Ready Paket Wisata 3h2m / 4h3m / 5h4m

Budaya Aceh merupakan kumpulan budaya dari berbagai suku di Aceh, Indonesia.

Provinsi Aceh terdiri atas 11 suku, yaitu:
    Suku Aceh (76% dari populasi provinsi aceh sensus tahun 2010)
    Suku Tamiang (Di Kabupaten Aceh Tamiang sekitar 35%).
    Suku Alas, Suku Haloban (Di Kabupaten Aceh Tenggara).
    Suku Singkil (Di Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam sekitar 40%)
    Suku Aneuk Jamee dan Suku Kluet (Di Kabupaten Aceh Selatan sekitar 35%).
    Suku Gayo (di Kabupaten Aceh Tengah 20%, Kabupaten Bener Meriah 20% dan Kabupaten gayo Lues sekitar 40%)
    Suku Simeulue, Suku Devayan, Suku Sigulai (di Kabupaten Simeulue)

Masing-masing suku mempunyai budaya, bahasa dan pola pikir masing-masing.

Bahasa yang umum digunakan adalah Bahasa Aceh (76%) selain Bahasa Indonesia.

Di sana hidup adat istiadat Melayu, yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat bersendikan hukum Syariat Islam. Penerapan syariat Islam di provinsi ini bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, tepatnya sejak masa kesultanan, syariat Islam sudah meresap ke dalam diri masyarakat Aceh.


Sejarah

Sejarah menunjukkan bagaimana rakyat Aceh menjadikan Islam sebagai pedoman dan ulama pun mendapat tempat yang terhormat. Penghargaan atas keistimewaan Aceh dengan syariat Islamnya itu kemudian diperjelas dengan Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 menggenai Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh. Dalam UU No.11 Tahun 2006 mengenai Pemerintahan Aceh, tercantum bahwa bidang al-syakhsiyah (masalah kekeluargaan, seperti perkawinan, perceraian, warisan, perwalian, nafkah, pengasuh anak dan harta bersama), mu`amalah (masalah tatacara hidup sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti jual-beli, sewa-menyewa, dan pinjam-meminjam), dan jinayah (kriminalitas) yang didasarkan atas syariat Islam diatur dengan qanun (peraturan daerah).

Undang-undang memberikan keleluasaan bagi Aceh untuk mengatur kehidupan masyarakat sesuai dengan ajaran Islam. Sekalipun begitu, pemeluk agama lain dijamin untuk beribadah sesuai dengan kenyakinan masing-masing. Inilah corak sosial budaya masyarakat Aceh, dengan Islam agama mayoritas di sana tapi provinsi ini pun memiliki keragaman agama.

Keanekaragaman seni dan budaya menjadikan provinsi ini mempunyai daya tarik tersendiri. Dalam seni sastra, provinsi ini memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Aneuk Jame, Tamiang, Gayo, Alas, haloban, kluet. Bentuk sastra lainnya adalah puisi yang dikenal dengan hikayat, dengan salah satu hikayat yang terkenal adalah Hikayat Prang Sabi (Perang Sabil).

Seni tari Aceh juga mempunyai keistimewaan dan keunikan tersendiri, dengan ciri-ciri antara lain pada mulanya hanya dilakukan dalam upacara-upacara tertentu yang bersifat ritual bukan tontonan, kombinasinya serasi antara tari, musik dan sastra, ditarikan secara massal dengan arena yang terbatas, pengulangan gerakan monoton dalam pola gerak yang sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang, serta waktu penyajian relatif panjang.

Tari-tarian yang ada antara lain Seudati, Saman, Rampak, Rapai, dan Rapai Geleng. Tarian terakhir ini paling terkenal dan merupakan perpaduan antara tari Rapai dan Tari Saman.

Dalam bidang seni rupa, Rumoh Aceh merupakan karya arsitektur yang dibakukan sesuai dengan tuntutan budaya waktu itu. Karya seni rupa lain adalah seni ukir yang berciri kaligrafi. Senjata khas Aceh adalah Rencong. Pada dasarnya perpaduan kebudayaan antara mengolah besi (metalurgi) dengan seni penempaan dan bentuk. Jenis rencong yang paling terkenal adalah siwah.

Suku bangsa Aceh menyenangi hiasan manik-manik seperti kipas, tudung saji, hiasan baju dan sebagainya. Kemudian seni ukir dengan motif dapat dilihat pada hiasan-hiasan yang terdapat pada tikar, kopiah, pakaian adat, dan sebagainya.
Budaya Bercocok Tanam
Bercocok tanam yang dimulai sejak pembukaan lahan. Dalam hal ini, ada lembaga/instansi adat yang

Sistem pengelolaan hutan sebagai lahan bercocok tanam, fungsi Petua Seuneubôk tak dapat dinafikan. Seuneubôk sendiri maknanya adalah suatu wilayah baru di luar gampông yang pada mulanya berupa hutan. Hutan tersebut kemudian dijadikan ladang. Karena itu, pembukaan lahan seuneubôk harus selalu memperhatikan aspek lingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi anggota seuneubôk dan lingkungan hidup itu sendiri. Maka fungsi Petua Seuneubôk menjadi penting dalam menata bercocok tanam, di samping kebutuhan terhadap Keujruen Blang.
berwenang, yakni Panglima Uteuen yang dibawahi beberapa struktur adat lainnya seperti Petua Seuneubôk, Keujruen Blang, Pawang Glé, dan sebagainya.
Budaya Membuka Lahan Perkebunan
Bagi masyarakat Aceh terdapat sejumlah aturan yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Kearifan masyarakat Aceh juga terdapat dalam larangan menebang pohon pada radius sekitar 500 meter dari tepi danau, 200 meter dari tepi mata air dan kiri-kanan sungai pada daerah rawa, sekitar 100 meter dari tepi kiri-kanan sungai, sekitar 50 meter dari tepi anak sungai (alue).
Pamali atau Pantangan
Selain itu, dalam adat Aceh dikenal pula sejumlah pantangan saat membuka lahan di wilayah seuneubôk. Pantangan itu seperti peudong jambô (mendirikan gubuk). Jambô atau gubuk tempat persinggahan melepas lelah sudah tentu ada di setiap lahan. Dalam adat meublang (bercocok tanam), jambô tidak boleh didirikan di tempat lintasan binatang buas atau tempat-tempat yang diyakini ada makhluk halus penghuni rimba. Bahan yang digunakan untuk penyangga gubuk juga tidak boleh menggunakan kayu bekas lilitan akar (uroet), karena ditakutkan akan mengundang ular masuk ke jambô tersebut.

Ada pula pantang daruet yang maksudnya anggota seuneubôk dilarang menggantung kain pada pohon, mematok parang pada tunggul pohon, dan menebas (ceumeucah) dalam suasana hujan. Hal ini karena ditakutkan dapat mendatangkan hama belalang (daruet).

Selain itu, di dalam kebun (hutan) juga dilarang berteriak-teriak atau memanggil-manggil seseorang saat berada di hutan/kebun. Hal ini ditakutkan berakibat mendatangkan hama atau hewan yang dapat merusak tanaman, seperti tikus, rusa, babi, monyet, gajah, dan sebagainya.

Disebutkan pula bahwa dalam adat Aceh terdapat pantangan masuk hutan atau hari-hari yang dilarang. Karena orang Aceh kental keislamannya, hari yang dilarang itu biasanya berkaitan dengan “hari-hari agama”.

Aceh juga mencatat sejumlah larangan atau pantangan dalam perilaku. Hal ini seperti memanjat atau melempar durian muda, meracun ikan di sungai atau alue, berkelahi sesama orang dewasa dalam kawasan seuneubôk, mengambil hasil tanaman orang lain semisal buah rambutan, durian, mangga, dll., walaupun tidak diketahui pemiliknya, kecuali buah yang jatuh. Larangan tersebut tentunya menjadi cerminan sikap kejujuran dalam kehidupan di bumi yang mahaluas ini.

Adat Bersawah
Dalam bersawah (meupadé), juga terdapat sejumlah ketentuan demi keberlangsungan kenyamanan dan keamanan bercocok tanam. Hal ini seperti hanjeut teumeubang watèe padé mirah. Maksudnya adalah tidak
boleh memotong kayu saat padi hendak dipanen. Kalau ini dilanggar, dipercaya akan mendatangkan hama wereng (geusong). Demi menghindari sawah sekitar ikut imbas hama wereng, bagi si pelanggar ketentuan itu dikenakan denda oleh Keujruen Blang.








Sumber : Wiki pedia Bahasa Indonesia

Budaya Aceh merupakan kumpulan budaya dari berbagai suku di Aceh, Indonesia. Provinsi Aceh terdiri atas 11 suku, yaitu:     Suku Ace...

Objek Wisata Sabang, surganya Travellers Ready Paket Wisata 3h2m / 4h3m / 5h4m

Tidak ada satu tempat pun yang tidak menarik jika kita hendak mengunjungi Sabang. Semuanya sangat-sangat indah, menarik dan luar biasa. Subhanallah, sungguh ciptaanya yang luar biasa. Kami pun warga asli Aceh sangat takjub dengan keindahan yang dihasilkan secara alami ini. Pantai-pantai, Objek wisatanya sungguh membuat siapa saja terkesima begitu saja. Bagaimana tidak, saya saja hampir tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata lagi terkait keindahan alam disini........
Kami sudah membuktikannya, sekarang giliran anda untuk membuktikan semua keindahan yang ada di Sabang ini. Semoga anda juga terkesima melihat objek-objek wisata yang berada di Sabang ini..

Tanpa mengurangi rasa hormat kami, sebaiknya langsung saja kita bahas sedikit dari sekian banyaknya objek-objek wisata yang dapat kita saksikan secara langsung jika nantinya anda berkenan berkunjung ke Bumi Aceh atau Sabang ini...

Nah inilah, sedikit dari sekian banyak objek-objek wisata yang berada di Sabang,..

Pantai Sumur Tiga
Salah satu tempat yang wajib anda kunjungi ketika berliburan ke Pulau Sabang adalah Pantai Sumur Tiga. Keberadaan pantai ini mudah dijangkau, hanya 10 menit dari pusat Kota Sabang dan 20 menit dari Pelabuhan Balohan, Sabang. Pantai ini berada di kawasan Ie Meule, Kecamatan Sukajaya, Sabang. Wisatawan bisa menggunakan becak motor untuk ke sana.

 Pantai Sumur Tiga menawarkan keindahan alam bahari dengan lingkungan yang masih alami. Langitnya yang bersih membuat pantai ini menjadi tempat ideal untuk memandangi keindahan matahari terbit. Apalagi pantai ini berada di sisi timur Pulau Weh. Di sisi lain, sepanjang pinggiran pantai ini masih dipadati pepohonan kelapa, yang meneduhkan pada waktu terik matahari menyengat kulit.

 Wisatawan lokal dan asing terpikat mendatangi pantai ini silih berganti. Banyak wisatawan yang tak siap dengan pakaian ganti memilih duduk manja ataupun bermain pasir di pinggiran pantai. Namun, banyak pula wisatawan yang tak kuasa menahan hasratnya untuk berenang dan menyelam kendati tak berpakaian renang.

Bagi wisatawan asing atau ekspatriat, pantai ini menjadi surga menyelam ringan (snorkeling). Tanpa sungkan mereka membawa peralatan menyelam sendiri demi menikmati keindahan bawah laut Pantai Sumur Tiga.

Selain menyelam, wisatawan asing pun bisa bermanja membiarkan tubuh tersengat cahaya matahari alias berjemur di pantai ini. Tanpa malu-malu, para wisatawan asing rebahan di atas pasir putih Pantai Sumur Tiga.

Wisatawan lokal dan asing jangan ragu dan takut untuk menyelam dan berjemur di pantai ini. Pantai ini adalah oasis di tengah berlakunya hukum syariat Islam di ”Bumi Serambi Mekkah”. Pantai ini memungkinkan wisatawan bisa menikmati dengan optimal keindahan alam bahari ”Tanah Rencong”.

 Keunikan lain pantai ini terdapat tiga sumur yang berair tawar. Padahal, sumur ini jaraknya hanya 15 meter dari laut. Tiga sumur menjadi ikon kawasan ini sekaligus menjadi cikal bakal nama pantai.

Pulau Klah
Kota sabang sangat kaya dengan keindahan alamnya yang mempesona, mungkin belum pernah terpikirkan dalam benak anda sebelumnya. Pulau Klah merupakan bagian dari wilayah kota Sabang, provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pulau ini berada di sebelah barat laut dari pulau Weh. Pulau Klah berada tepat dijantung teluk Sabang. Pulau ini juga dibangun mercusuar yang berfungsi sebagi navigasi bagi kapal-kapal yang berlabuh di teluk Sabang. Pulau ini terletak dihadapan pantai Krueng Raya.

Pulau Klah ini memang tidak terlalu besar memang, namun keindahan alamnya sangat mempesona, dengan suasana tenang dan damai, sangatlah cocok bagi anda yang tidak suka dengan kebisingan, melepas penat dari hiruk pikuk kota yang melelahkan.

Di sekitar pantai pulau klah ini, terdapat batu-batu karang yang terjal yang melengkapi keindahan pulau ini.Pulau klah ini berada di pada perputaran dan pertemuan arus masuk dan arus keluarnya air Laut. Sehingga terdapat habitat ikan yang mendiami perairan ini, contohnya seperti ikan cakalang dan ikan layaran, apalagi jika sedang panen, akan ada bazar ikan besar-besaran di tepi Pantai Kreung Raya yang ada di seberang Pulau Klah ini.

Anda juga bisa melakukan diving, surfing, dan snorkling di pantai pulau Klah ini, panorama yang ada di bawah lautnya juga tidak kalah di bandingkan dengan pantai-pantai lainnya, apalagi kalau sedang sunset, di pulau yang tenang ini, akan sangat menyenangkan bila anda menyaksikannya bersama orang-orang terkasih, sambil barbeque ria di pinggigran pantai.

Untuk masalah penginapan, tenang saja, jika anda enggan beranjak dari pulau kecil nan indah ini, anda bisa menginap disana, di Pulau Klah ini sudah ada beberapa penginapan dan juga bungalow yang berjajar di pinggiran pulau Klah tersebut, jadi anda tetap bisa menikmati panorama Laut yang indah dari balkon penginapan-penginapan dan bungalow disana.

Bagi anda yang suka dengan camping menjadi plihan yang tepat untuk anda berlibur bersama teman-teman anda.

Jalan menuju ke pulau Klah ini jalur transportasi laut yaitu dengan menggunakan perahu dari kota Sabang.

Pulau Klah adalah pulau yang tidak berpenghuni, namun di sana terdapat berbagai aktivitas warga salah satunya adalah aktivitas warga dalam budidaya ikan kerapu di sekitar bibir pantai, ini tentu saja menjadi pemandangan langka untuk anda kunjungi.

Pulau Rubiah
Pulau Rubiah merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Walau begitu, di pulau ini masih terdapat sebuah warung kecil yang menjual makanan dan minuman. Pulau ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Mereka yang datang selain hanya untuk sekedar bermain di pantai, ada juga yang berkeliling pulau, bahkan ada pula yang snorkeling menikmati pemandangan indah bawah laut pulau ini.
Air laut di pulau ini sangat jernih dan bersih. Bahkan pengunjung dapat melihat pemandangan bawah laut dari atas air sampai dengan kedalaman 15 meter.

Tak jarang pengunjung akan melihat sekumpulan ikan laut yang berenang di sela-sela terumbu karang. Jenis ikan yang sering ditemukan disini antara lain seperti ikan Bendera, ikan Kepe-kepe, ikan Botana Biru, ikan Sersan, Kerapu, ikan Mayor, ikan Putri Bali dan masih banyak jenis ikan lainnya yang terdapat di pulau ini.

Selain itu juga terdapat berbagai macam jenis biota laut lainnya yang terdapat di pulau ini, seperti bintang laut, bunga lili, cumi-cumi dan berbagai macam terumbu karang. Terumbu karang yang yang terdapat disini mulai dari karang yang keras sampai yang lunak, dengan berbagai bentuk dan warna. Seperti karang meja dan karang tanduk.

Di pulau ini pun terdapat lokasi tempat transplantasi karang. Yaitu tempat pembibitan batu karang yang dilakukan oleh beberapa lembaga. Pengunjung dapat melihatnya saat sedang melakukan snorkeling, karena memang lokasinya berada di dasar laut. Pengunjung tidak perlu khawatir jika tidak membawa peralatan snorkeling.

Benteng Jepang
Salah satu tempat yang wajin anda datangi selanjutnya adalah Benteng Jepang atau Anoi Itam. Berbicara tentang wisata kota Sabang seakan tidak pernah ada habisnya. Hampir disetiap sudut kota terdapat objek wisata. Kota yang terkenal sebagai surganya objek wisata ini juga terkenal sebagai kota seribu benteng. Dibeberapa titik tertentu kita akan sangat mudah menemukan benteng-benteng berukuran kecil atau besar.

Kebiasaan pengunjung yang bertandang ke sini adalah untuk bersantai-santai dan berfoto. Banyak sekali spot indah untuk berfoto, salah satunya di antara bebatuan karang. Hempasan ombak pada batu karang depan benteng seperti adegan dalam film saja.

Namun saya pribadi lebih suka bertandang ke sini untuk bersantai dengan melihat sunrise atau sunset. Jika ada survey untuk memilih spot terindah untuk menikmati sunset maka saya akan memilih Benteng Jepang Anoi Itam sebagai salah satu spot terindah. Bagi penggila sunset maka tempat ini wajib masuk dalam list yang harus dikunjungi.

Hamparan rerumputan hijau seolah berubah menjadi permadani yang digelar. Begitu melihatnya langsung saja rasanya ingin merebahkan diri. Ditambah terpaan angin laut yang sepoi-sepoi menambah kenikmatan bersantai. Seakan-akan dunia menjadi milik kita. Tempat ini memang sungguh luar biasa. Maha cipta sang kuasa yang tiada duanya. Dari segi kebersihannya pun patut diancungi jempol. Tidak ada kotoran binatang yang berserak ditanah.

Jika anda beruntung, disekitaran tebing segerombolan ikan berwarna-warni akan terlihat melintas. Dari ketinggian lebih kurang empat puluh meter gerombolan ikan akan terlihat jelas meliuk-liuk mencari makan diantara karang-karang yang ada.

Masyarakat setempat biasanya juga mencari ikan disekitaran tebing benteng. Banyak jenis ikan disini. Bagi anda yang suka mancing kawasan ini menjadi tempat yang saya rekomendasikan untuk melakukan aktivitas mancing.

 Dan inilah sedikit rincian tentang calon Objek wisata yang akan kita kunjungi nantinya jika anda berkenan hadir ke Sabang bersama kami. Kami siap melayani anda 100 % full nyaman, dan anda puas...

Semoga dengan adanya sediikit rincian objek wisata tersebut, kita dapat berkumpul di Bumi Aceh yang indah ini....

Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi kami segera 
Whatshapp : Devi = 0823 6120 6130
Email : aso_wisata@yahoo.com / deviyanti_mpi77@yahoo.com

Tidak ada satu tempat pun yang tidak menarik jika kita hendak mengunjungi Sabang. Semuanya sangat-sangat indah, menarik dan luar biasa. Sub...

Mengunjungi Kota Banda Aceh dan Sabang Ready Paket Wisata 3h2m / 4h3m / 5h4m

Kota Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam.[2] Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi. Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Pada masa agresi Belanda yang kedua, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja. Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2012 adalah sebesar 248.727 jiwa.

Nah jika kita berkeinginan pergi Ke Sabang, sekarang banyak jalur yang bisa kita tempuh. Kita bisa berangkat ke Sabang bisa melalui Transportasi Udara yaitu dengan maskapai Wings Air dan Garuda Indonesia, kita bisa juga berangkat ke Sabang melalui Transportasi Laut bisa menggunakan kapal Feri dan kapal Cepat.


Jika kita ingin berangkat melalui Transportasi Laut, kami lebih memilih berangkat dengan Kapal Cepat, kenapa dengan kapal cepat, karena kami mau melayani semua customer senyaman-nyaman mungkin, karena jika kita berangkat dengan kapal cepat cuma memerlukan waktu sekitar 45 menit, jika dengan feri +3 jam. jauh lebih enak dengan kapal cepat kan . jadinya customer tidak terlalu lelah untuk melakukan penyeberangan dari dan ke Sabang.

Pelayaran dengan kapal Cepat sekarang setiap hari ada melakukan penyeberangan, jadi kita tidak perlu terburu-buru lagi mengejar waktunya.

Berikut jadwal keberangkatan / penyeberangan dari dan ke Sabang melalui Banda Aceh.



Jadwal Terbaru Keberangkatan/Kedatangan Kapal Penumpang Penyeberangan
Sabang - Banda Aceh (Pelabuhan Balohan - Ulee Lheue).



No.

Nama Kapal

Rute Pelayaran

Hari

Waktu Berlayar

Waktu Sandar/Tiba

Trip

Ket

1.

KMP. BRR (Kapal Lambat) dan KMP. Tanjung Burang (Kapal Lambat)

Balohan – Ulee Lheue

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu

08.00 Wib

11.00 Wib

16.00 Wib


10.00 Wib

13.00 Wib

18.00 Wib

1

2

3




Jum’at
08.00 Wib

14.00 Wib

16.00 Wib

10.00 Wib

16.00 Wib

18.00 Wib
1

2

3



Ulee Lheue - Balohan
Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu
08.00 Wib

11.00 Wib

16.00 Wib

10.00 Wib

13.00 Wib

18.00 Wib
1

2

3




Jum’at
08.00 Wib

14.00 Wib

16.00 Wib

10.00 Wib

16.00 Wib

18.00 Wib
1

2

3

2.
KM. Express Cantika 89 (Kapal Cepat)
Balohan – Ulee Lheue
Senin s/d Minggu
08.00 Wib

14.30 Wib

08.45 Wib

15.15 Wib
1

2



Ulee Lheue - Balohan
Senin s/d Minggu
09.30 Wib

16.00 Wib

10.15 Wib

16.45 Wib
1

2

Note : Jadwal di atas sewaktu-waktu dapat berubah tergantung cuaca dan kondisi penumpang dan kendaraan penyeberangan di lapangan.
Nah tunggu apalagi , siapkan segera keperluan-keperluan anda untuk berangkat ke Banda Aceh lalu kita akan segera berangkat ke Sabang, surganya para penikmat Wisata ....

Untuk info lebih lanjut, hubungi kami segera ...

Whatshapp : Devi : 0823 6120 6130
email     : aso_wisata@yahoo.com / deviyanti_mpi77@yahoo.com.

Kepuasan, kenyamanan anda terjamin 100 %.

Kota Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-pu...